KAMI HADIR DENGAN 5 JAMINAN PASTI - OBATNYA LENGKAP - HARGANYA RELATIF MURAH - HANYA MENJUAL OBAT ASLI - LAYANAN KONSULTASI APOTEKER GRATIS - TERSEDIA LAYANAN ANTAR - HOTLINE CALL 0812-2978-4326



Friday, November 18, 2016

Ini Kunci Sehat Bugar di Usia Lanjut

Lanjut usia atau lansia berada pada risiko tinggi menderita berbagai penyakit. Ini lantaran lansia memiliki daya tahan tubuh yang cenderung lemah.

Padahal, kata Ketua Pergemi (Persatuan Gerontologi Medik Indonesia), Prof. Dr. dr Siti Setiati, SpPD-KGer, ada cara mudah yang bisa dilakukan sejak muda agar terhindar berbagai penyakit saat lansia.
"Kuncinya adalah bahagia. Bukan hanya bahagia dalam arti sebenarnya, tapi ini ada singkatannya yang berisi rumus untuk produktif meski sudah berusia lanjut," ujar Profesor yang akrab disapa Ati ini pada temu media peringatan Hari Lansia di Kemenkes, baru-baru ini.

Lalu, apa makna lain dari Bahagia yang dimaksud Prof Ati? Berikut penjelasannya.

B: Berat badan harus dikontrol. Jika terlalu gemuk maka harus dikurangi, dan bila terlalu kurus harus ditambah. Pasalnya obesitas menjadi faktor risiko dari berbagai penyakit. Sedangkan terlalu kurus dikaitkan dengan kondisi kurang gizi yang memicu beragam penyakit.

A: Atur makanan. Konsumsi gizi lengkap dan seimbang sedari muda untuk memenuhi nutrisi yang dibutuhkan tubuh. Tubuh yang sehat menjadi investasi masa depan yang tidak ternilai harganya.

H: Hindari faktor risiko dan kelola penyakit kronis. Berbagai penyakit yang biasa menyerang di usia lanjut memiliki faktor risiko tersendiri. Cobalah untuk menghindari masing-masing faktor risiko sehingga berbagai penyakit kronis bisa dicegah.

A: Agar terus bahagia, kembangkan hobi yang bermanfaat. Apapun hobi yang Anda senangi akan lebih bermanfaat bagi kesehatan fisik dan mental dibandingkan tidak memiliki hobi sama sekali. Selain itu, memiliki hobi juga dapat membuat kita tergabung dalam komunitas dan memiliki banyak teman.

G: Gerakkan badan secara teratur sesuai kemampuan. Lakukan aktivitas fisik yang Anda senangi minimal 30 menit per hari selama lima kali seminggu.

I: Iman dan takwa harus ditingkatkan. Selain itu penting untuk kelola stres dan terus berpikiran positif.

A: Awasi kesehatan dengan pemeriksaan secara berkala. Pemeriksaan kesehatan secara rutin dapat membantu Anda mendeteksi adanya penyakit secara dini sehingga tingkat kesembuhannya bisa lebih tinggi dibandingkan menunda pengobatan.


Friday, November 4, 2016

Bulan Hipertensi, Saatnya Rutin Cek Tekanan Darah dan Denyut Nadi

Hipertensi merupakan silent killer. Tidak ada yang mengetahui kapan Hipertensi akan terjadi. Untuk itu, tingkatkan self awareness (kepedulian) dalam mengenali dan mencegah Hipertensi melalui deteksi dini berupa pengukuran tekanan darah secara rutin minimal sebulan sekali.

Demikian pernyataan Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan RI, dr. H. Mohamad Subuh, MPPM pada kegiatan Temu Media bertajuk “Ketahui Tekanan Darahmu” di Kantor Ditjen P2P Kemenkes RI di Kawasan Percetakan Negara, Jakarta Pusat, Senin siang. Kegiatan temu media tersebut diselenggarakan sehari menjelang peringatan Hari Hipertensi Sedunia yang diperingati setiap tanggal 17 Mei setiap tahunnya.

Sebenarnya, tidak ada alasan bahwa deteksi dini hipertensi sulit dilakukan. Masyarakat dapat dengan mudah mengukur tekanan darahnya di fasilitas kesehatan tingkat satu seperti Puskesmas atau kegiatan pos pembinaan terpadu (Posbindu) yang banyak tersebar di masyarakat.

“Masyarakat kita mampu membeli gadget yang bernilai jutaan, padahal tensimeter harganya hanya ratusan ribu dan bisa bermanfaat untuk digunakan oleh seluruh keluarga”, ungkapnya.
Menurut dr. Subuh, self awareness masyarakat masih belum tumbuh, ditandai dengan kebiasaan berobat dan mencari pengobatan hanya pada saat sakit, sulit memulai untuk mencegah.

“Jangankan rutin mengukur tekanan darah menggunakan tensimeter, hari ini siapa yang sudah mengukur nadi sendiri? Mengukur nadi tanpa harus menggunakan alat. Itu salah satu bentuk self awareness”, terang dr. Subuh.

Dengan mengusung tagline “Ketahui Tekanan Darahmu”, mulai tahun 2016, setiap tanggal 17 Mei s.d 17 Juni dinamakan sebagai Bulan Hipertensi. Kementerian Kesehatan RI mengimbau kepada Pemerintah Daerah, Kementerian dan Lembaga untuk menyediakan pojok-pojok pemeriksaan Hipertensi.

Dibutuhkan upaya bersama untuk menyadarkan masyarakat agar senantiasa melindungi diri dan keluarga dari penyakit tidak menular (PTM) dengan cara membiasakan berperilaku CERDIK, yang merupakan kepanjangan dari: Cek kesehatan secara berkala, Enyahkan asap rokok, Rajin aktivitas fisik, Diet sehat dan seimbang, Istirahat cukup, dan Kelola stress.

Sementara itu, President Elect Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI), DR. Dr. Ismoyo Sunu, SpJP(K), FIHA, FAsCC, menerangkan bahwa standar tekanan darah yang normal adalah 120-129 mmHg, sedangkan dikatakan kategori normal tinggi jika tekanan darah antara 130 sampai 139 mmHg.

“HKategori normal tinggi harus mulai diwaspadai sebagai peringatan”, katanya.
Selanjutnya, orang yang tekanan darahnya mencapai 140 – 159 mmHg sudah masuk dalam kategori Hipertensi derajat satu, sementara tekanan darah 160 – 179 mmHg masuk ke dalam kategori Hipertensi derajat dua. Apabila tekanan darah >180 mmHg dimasukkan ke dalam kategori Hipertensi derajat tiga.

“Secara awam, tekanan darah yang normal adalah 120 mmHg setiap kali jantung berdetak (sistolik) dan 80 mmHg saat berada dalam kondisi relaksasi (diastolik), tandasnya.

Berita ini disiarkan oleh Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat, Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Halo Kemkes melalui nomor hotline (kode lokal) 1500-567, SMS 081281562620, faksimili (021) 5223002, 52921669, dan alamat email kontak@kemkes.go.id.