KAMI HADIR DENGAN 5 JAMINAN PASTI - OBATNYA LENGKAP - HARGANYA RELATIF MURAH - HANYA MENJUAL OBAT ASLI - LAYANAN KONSULTASI APOTEKER GRATIS - TERSEDIA LAYANAN ANTAR - HOTLINE CALL: 0812-2978-4326



Friday, September 8, 2017

Awas, Diabetes Bisa Turunkan Kemampuan Otak


Sudah banyak yang mengetahui diabetes bisa merusak sejumlah organ tubuh seperti mata, ginjal, dan hati. Kini, sebuah bukti dari penelitian ilmiah menemukan kadar gula darah yang tinggi dapat memengaruhi otak yang kemudian berdampak menurunkan fungsi kognitif penyandang diabetes.

Peningkatan kadar gula dalam darah pada diabetesi, menyebabkan pembuluh darah jadi kurang responsif terhadap aneka permintaan di berbagai bagian otak. Pembuluh darah yang biasanya fleksibel akan mudah mengalirkan darah dan oksigen ke bagian yang otak, seperti bagian yang terlibat memori dan nalar terkait tugas intelektual. Namun, karena kadar gula darah yang tinggi menyebabkan saraf kurang lentur dan kurang responsif.

Bahkan, penurunan fleksibilitas pembuluh darah pun terjadi pada mereka yang sudah minum obat dan menjaga kadar gula darahnya.
"Kontrol gula darah saja tidak cukup untuk mengatasi penurunan kognitif. Kita membutuhkan obat baru untuk meningkatkan reaktivitas pembuluh darah pada penyandang diabetes," terang salah salah satu peneliti yang juga profesor bidang saraf dari Harvard Medical School dan Beth Israel Deaconess Medical Center, dokter Vera Novak.

Hasil penelitian dokter Novak ini dilakukan bersama rekan. Mereka melakukan tes kognitif terhadap penyandang diabetes tipe 2 dan orang sehat. Lalu, dua tahun kemudian kembali dilakukan perbandingan tes kognitif. 

Ternyata, penyandang diabetes memiliki skor lebih rendah dibandingkan ketika dua tahun lalu, sementara mereka tanpa diabetes tidak menunjukkan perubahan signifikan.
"Dengan diabetes, kemampuan vasodilitasi (pelebaran diameter pembuluh darah yang terjadi ketika otot-otot di dinding pembuluh darah mengendur) berkurang sehingga hanya memiliki sumber daya yang lebih sedikit untuk melakukan tugas apapan," terang Novak seperti dilansir laman Time.

Berhubung penyandang diabetes pun tidak hanya terjadi pada orang tua, tapi juga pada usia muda, dokter Novak dan rekan terus melakukan penelitian untuk menemukan terapi mengatasi hal ini.
"Kami benar-benar tidak memiliki pengobatan untuk penurunan kognitif pada penyandang diabetes. Banyak yang belum mengetahui sebagai organ yang berisiko terhadap penyakit ini. Jadi kitar perlu lebih banyak penelitian," kata Novak.


Friday, August 11, 2017

Hati-Hati, Kurang Vitamin D Tingkatkan Risiko Disfungsi Ereksi





Sebuah penelitian dari Italia menemukan bahwa kadar vitamin D yang rendah dapat meningkatkan risiko disfungsi ereksi seorang pria. Vitamin D umumnya bisa didapat dari sinar matahari pagi, suplemen, ataupun beberapa makanan.

 
Untuk mendapatkan hasil riset tersebut, para peneliti menguji 143 pria dengan tingkatan masalah disfungsi ereksi yang berbeda-beda. Mereka menemukan hampir setengah dari para peserta ternyata kekurangan vitamin D dalam tubuhnya. Selain itu, hanya satu dari lima pria yang tubuhnya memiliki vitamin D dengan tingkat yang optimal.

 Sementara itu, para pria dengan kasus disfungsi ereksi yang parah ternyata memiliki kadar vitamin D sekitar 24 persen lebih rendah dibandingkan dengan pria yang memiliki masalah disfungsi ereksi yang tergolong ringan, seperti dilansir dari Menshealth.

Menurut penulis studi, Alessandra Barassi, M.D. dan timnya, mereka mengatakan bahwa kadar vitamin D yang rendah dapat memicu produksi radikal bebas yang disebut dengan ion superoksida. Radikal bebas ini menguras oksida nitrat Anda. Padahal, mereka adalah molekul yang membantu pembuluh darah berfungsi dengan baik.

Jadi, jika oksida nitrat berkurang dari tubuh Anda, maka hal ini akan mengakibatkan sulitnya mendapatkan ereksi.
“Oksida nitrat menyebabkan pembuluh darah menjadi rileks, sehingga akan meningkatkan aliran darah dan menyebabkan ereksi berada dalam keadaan yang normal. Namun tanpa jumlah oksida nitrat seperti yang seharusnya, maka pembuluh darah Anda tidak bisa cukup rileks untuk memungkinkan ereksi,” ujar penasihat urologi Men’s Health, Larry Lipshultz, M.D.

Menurut Dr.Barassi, jika Anda menderita masalah disfungsi ereksi, mintalah dokter untuk mengecek kadar vitamin D dalam tubuh Anda. Jika rendah, studi tersebut menyarankan untuk meminum suplemen vitamin D, supaya kadarnya di dalam tubuh Anda bisa kembali optimal, yaitu sekitar 30 ng/mL atau lebih.
“Sedangkan untuk pria dengan fungsi ereksi yang normal, saat ini kami masih mempelajari apakah suplementasi vitamin D dapat bertindak sebagai langkah preventif untuk menunda disfungsi ereksi,” ujar Dr. Barassi.