KAMI HADIR DENGAN 5 JAMINAN PASTI - OBATNYA LENGKAP - HARGANYA RELATIF MURAH - HANYA MENJUAL OBAT ASLI - LAYANAN KONSULTASI APOTEKER GRATIS - TERSEDIA LAYANAN ANTAR - HOTLINE CALL: 0852-1841-1941



Friday, October 13, 2017

Kolesterol Tinggi itu Tak Kasatmata, Lho!





Sekitar satu dari 500 orang menderita kelainan genetika, yang dikenal dengan nama hiperkolesterolemia (FH), yaitu kondisi meningkatnya kadar lemak dalam darah yang dapat membuat mereka berisiko terkena serangan jantung.
   
Namun, penyakit yang menurut para dokter itu mudah ditangani di Austria sangat jarang terlacak, kata Friedrich Mittermayer dari lembaga FHChol Austria, di Wina. Sudah banyak yang paham bahwa persoalan kolesterol yang tak terkontrol ini berkait dengan gaya hidup termasuk di dalamnya pilihan makan dan aktivitas yang dijalan setiap hari.


Penderita FH biasanya akan terukur dengan kadar kandungan lemak jahat di dalam darahnya (LDL) antara 200 hingga 400 mg per desiliter darah. Itu semua kebanyakan karena cara hidup yang dijalankan.
   
Namun ada banyak kasus pula dimana kedua orangtua bisa meneruskan tanggungjawab mutasi genetika penyakit ini kepada putra-putrinya. Dengan kata lain, FH bias bersifat menurun.
Dampak penyakit ini sangat berbahaya, bisa menyebabkan penyakit pembuluh darah arteri pada masa kanak-kanak dan meningkatkan risiko serangan jantung bahkan stroke.

"Delapan puluh lima persen pria dan 50 persen perempuan akan mendapat serangan jantung ketika berusia 65 tahun jika tidak mendapat perawatan," kata Mittermayer.
Suatu diagnosa harus dilakukan dengan mengukur besar dan bobot tubuh dan MBI pada anak-anak usia dua tahun, serta memeriksa tekanan darah ketika berusia tiga tahun.

Pada saat usia anak mencapai 10 tahun perlu dilakukan pemeriksaan darah secara menyeluruh untuk melihat kecenderungan yanga ada.
Setelah pemeriksaan tersebut, bagi mereka yang memiliki LDL tinggi dapat mengatur pola diet untuk menurunkannya, atau berolahraga bahkan jika diperlukan juga mengobatinya, kata para ahli. (Abd)

Friday, September 8, 2017

Awas, Diabetes Bisa Turunkan Kemampuan Otak


Sudah banyak yang mengetahui diabetes bisa merusak sejumlah organ tubuh seperti mata, ginjal, dan hati. Kini, sebuah bukti dari penelitian ilmiah menemukan kadar gula darah yang tinggi dapat memengaruhi otak yang kemudian berdampak menurunkan fungsi kognitif penyandang diabetes.

Peningkatan kadar gula dalam darah pada diabetesi, menyebabkan pembuluh darah jadi kurang responsif terhadap aneka permintaan di berbagai bagian otak. Pembuluh darah yang biasanya fleksibel akan mudah mengalirkan darah dan oksigen ke bagian yang otak, seperti bagian yang terlibat memori dan nalar terkait tugas intelektual. Namun, karena kadar gula darah yang tinggi menyebabkan saraf kurang lentur dan kurang responsif.

Bahkan, penurunan fleksibilitas pembuluh darah pun terjadi pada mereka yang sudah minum obat dan menjaga kadar gula darahnya.
"Kontrol gula darah saja tidak cukup untuk mengatasi penurunan kognitif. Kita membutuhkan obat baru untuk meningkatkan reaktivitas pembuluh darah pada penyandang diabetes," terang salah salah satu peneliti yang juga profesor bidang saraf dari Harvard Medical School dan Beth Israel Deaconess Medical Center, dokter Vera Novak.

Hasil penelitian dokter Novak ini dilakukan bersama rekan. Mereka melakukan tes kognitif terhadap penyandang diabetes tipe 2 dan orang sehat. Lalu, dua tahun kemudian kembali dilakukan perbandingan tes kognitif. 

Ternyata, penyandang diabetes memiliki skor lebih rendah dibandingkan ketika dua tahun lalu, sementara mereka tanpa diabetes tidak menunjukkan perubahan signifikan.
"Dengan diabetes, kemampuan vasodilitasi (pelebaran diameter pembuluh darah yang terjadi ketika otot-otot di dinding pembuluh darah mengendur) berkurang sehingga hanya memiliki sumber daya yang lebih sedikit untuk melakukan tugas apapan," terang Novak seperti dilansir laman Time.

Berhubung penyandang diabetes pun tidak hanya terjadi pada orang tua, tapi juga pada usia muda, dokter Novak dan rekan terus melakukan penelitian untuk menemukan terapi mengatasi hal ini.
"Kami benar-benar tidak memiliki pengobatan untuk penurunan kognitif pada penyandang diabetes. Banyak yang belum mengetahui sebagai organ yang berisiko terhadap penyakit ini. Jadi kitar perlu lebih banyak penelitian," kata Novak.